News Update :

Analisa Fundamental Bawa 3 Orang Ini Jadi Trader Legendaris

Friday, September 30, 2016

Analisa fundamental, penting tapi seringkali dilupakan. Selama menjadi trader ritel, kapan terakhir kali Anda menelisik berita ekonomi untuk mendapat informasi mengenai kondisi ekonomi negara-negara pair major terkini? Tahukan Anda, bahwa 3 orang (yang awalnya) awam ini mampu menjadi trader legendaris dengan mengandalkan ketajaman analisa fundamental?


Analisa fundamental pada praktiknya sebenarnya berpangkal pada ketelitian trader untuk mengevaluasi "nilai hakiki" (intrinsic value) pada suatu instrumen finansial. Dari situ trader fundamentalis dapat mendeteksi sejauh mana mispricing (kesenjangan harga) telah bergerak menjauh dari nilai hakikinya. Mereka dapat mengantongi profit dalam jumlah besar karena sesuai dengan hukum permintaan versus persediaan harga akan terkoreksi kembali ke posisi nilai hakiki tersebut.
Anda masih tidak percaya terhadap keampuhan analisa fundamental? Simak dulu pengakuan tiga trader legendaris berikut.

Inilah Pandangan 3 Trader Legendaris Terhadap Analisa Fundamental
Analisa Fundamental sebenarnya telah menjadi pegangan para trader profesional sebelum analisa teknikal menjadi populer. Hal tersebut dikarenakan mispricing seringkali terjadi di kala banyak trader lain tidak mendapat akses berita atau informasi secara lengkap. Jadi tidak heran bila harga suatu instrumen finansial (saham, komoditas, dsb) seringkali "tergoreng" sampai pada titik harga nadirnya.
Di situlah para fundamentalis handal menganalisa harga sejati dari instrumen hasil "goreng-gorengan" tersebut. Mereka memasang posisi dari titik harga nadir, lalu posisi dipertahankan sampai harga kembali terkoreksi ke harga hakikinya.

1. Benjamin Graham
Masalah harga hakiki vs. mispricing dibahas secara mendetail oleh salah satu trader legendaris, Benjamin Graham, dalam bukunya "Security Analysis" pada tahun 1934 dan "The Intelligent Investor" pada tahun 1949. Hingga saat ini, kedua buku tersebut masih dicetak karena dinilai sebagai salah satu panduan investasi klasik terbaik.

Benjamin Graham menyebutkan bahwa harga-harga saham di bursa kebanyakan salah, dan tidak mencerminkan nilai hakiki suatu perusahaan. Meskipun opini tersebut kontroversial, namun seringkali pada kenyataannya terbukti karena keberadaan insider trading yang memaanfatkan orang dalam untuk mendapat informasi aktual.

Oleh karena itu Benjamin Graham seringkali mengingatkan untuk waspada ketika harga tiba-tiba melesat naik ataupun turun tajam. Sebagai investor cerdas Anda harus meniliti dengan analisa fundamental; apakah perubahan harga fluktuatif tersebut sejatinya mencerminkan nilai hakikinya atau sekedar hanya "goreng-gorengan" belaka.

2. Warren Buffet
Buah tidak jatuh dari pohonnya. Warren Buffet menurunkan prinsip-prinsip analisa fundamental dari gurunya, Benjamin Graham. Kedua trader legendaris tersebut menekankan esensi analisa fundamental sebagai penentu nilai intrinsik suatu instrumen finansial/sekuritas.

Warren Buffet mampu mengeruk profit dalam jumlah fantastis setiap tahunnya karena kelihaiannya dalam menganalisa fundamental nilai intrinsik suatu perusahaan dengan prinsip Value Investing. Dengan prinsip tersebut dia dapat menemukan "Hidden Gems" pada skema investasinya. Permata tersembunyi tersebut antara lain adalah perusahaan-perusahaan tak populer atau terlupakan dengan rasio P/E dan P/B rendah, namun memiliki banyak asset potensial. Biasanya harga saham perusahaan-perusahaan tersebut akan tergelincir setelah melewati periode IPO.

Di mana trader-trader umum mulai melepas saham pada perusahaan-perusahaan "hidden gems" tersebut, Warren Buffet justru mempertimbangkan untuk membeli saham di saat harga hakikinya sebenarnya lebih tinggi dari harga terendahnya (harga listing di bursa).

Dari situ Warren Buffet mendapatkan return dalam jumlah besar karena dengan membeli harga saham murah dalam volume raksasa, akhirnya perusahaan bak permata tersembunyi tadi mulai bangkit meningkatkan performa output produksinya.

Sebagai trader ritel Anda akan menemukan kesulitan dalam menirukan langkah-langkah investasi sang trader legendaris karena keterbatasan modal. Alternatifnya Anda dapat berinvestasi pada hedge funds dengan kebijakan investasi yang meniru langkah-langkah Warren Buffet.

3. George Soros
Jika Anda sudah lama bergelut dalam trading Forex, pasti Anda sudah pernah mendengar nama trader legendaris, George Soros. Salah satu kiprahnya dalam pasar Forex adalah peristiwa "Black Wednesday" di mana dia berhasil mengantongi USD 1 Milyar dan memaksa Bank Sentral Inggris (BoE) keluar dari mekanisme ERM (cikal bakal Euro).

Kesuksesan George Soros terletak pada aplikasi teori refleksif di mana dia mendeteksi gelembung-gelembung ekonomi pada suatu negara yang sudah mencapai titik nadirnya. Semakin cepat perekonomian suatu negara berekspansi melebihi kapasitas fundamentalnya, maka kemungkinan negara tersebut terperosok resesi akan semakin besar. Misalnya saat AS mengalami resesi akibat housing bubble pada tahun 2007.

Teori refleksif pada dasarnya juga masih berpangkal pada analisa fundamental. Mispricing pada pasar Forex relatif sering muncul terutama pada saat rilis news berdampak tinggi. Dengan teori refleksif, trader profesional mampu "menyaring" noise akibat rilis berita tersebut dengan analisa fundamental.

Kesimpulan
Analisa teknikal belakangan ini menjadi sangat populer karena tersedianya panduan penggunaan beragam indikator ataupun analisa grafis pada chart. Akibatnya, banyak trader pemula lebih mendahulukan belajar analisa teknikal daripada analisa fundamentalis, toh kata mereka belajar analisa fundamentalis itu sulit dan "ruwet".

Meskipun begitu, analisa fundamental sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari proses analisa pasar forex jangka pendek atau jangka panjang. Karena ketrampilan untuk menemukan dan memantau mispricing vs intrinsic value secara ekslusif hanya diperoleh dari ketajaman analisa fundamental.
[sumber: seputarforex]
Share this Article on :

1 comments:

Blogger said...

eToro is the best forex trading platform for new and advanced traders.

Post a Comment

 
© Copyright 2014 Blog Suprafx.com | IB Instaforex